PROBLEMATIKAN HALAQOH AL-QURAN (4)(5): FASILITAS TIDAK MEMADAI & LEMAHNYA PENYESUAIAN GURU DENGAN HALAQOH
Masalah Keempat: Fasilitas Tempat Halaqah yang Tidak Memadai
Sesungguhnya masjid, atau lembaga dan sekolah, adalah tempat yang paling layak untuk diselenggarakannya halaqah-halaqah Al-Qur’an dan majelis-majelis ilmu. Namun jika tidak memungkinkan, tidak mengapa menggunakan rumah-rumah untuk tujuan tersebut. Adapun yang terlihat di sebagian negara—yakni para siswa duduk melingkar di pinggir jalan, atau di bawah pohon di tempat terbuka, harus menahan panasnya matahari di musim kemarau, atau dinginnya udara di musim dingin, dan mereka menderita akibat penyebaran penyakit dan polusi udara—maka bagaimana mungkin mereka dapat belajar dengan jernih? Apalagi untuk menggantungkan harapan dan masa depan yang baik pada mereka.
Seorang guru wajib memperhatikan pemilihan tempat yang layak untuk halaqah. Jika bukan di masjid, maka hendaknya di tempat yang pantas dengan kemuliaan Al-Qur’an dalam jiwa manusia, memiliki ventilasi yang baik, pencahayaan yang cukup, bersih, tidak terkena debu, tidak dekat dengan tempat pembuangan sampah, tenang, dan jauh dari kebisingan lalu lintas. Tempat yang demikian akan membantu siswa untuk mengosongkan pikiran dan hatinya dalam menerima pelajaran, serta mendukung guru dalam menjalankan tugasnya secara maksimal.
Masalah Kelima: Lemahnya Penyesuaian Antara Guru dan Halaqah
Masalah ini memiliki empat bentuk:
- Guru merasa kesulitan untuk menyesuaikan diri dalam menyampaikan materi kepada siswa pemula karena tingkat keilmuannya sudah tinggi.
- Lemahnya pemahaman guru terhadap metode dan media yang tepat dalam mengajar anak-anak.
- Kemampuan ilmiah guru lemah dan belum mencapai standar halaqah, serta membutuhkan peningkatan kompetensi.
- Guru merasa tidak nyaman atau tidak cocok mengajar suatu halaqah karena alasan tertentu dan merasa perlu untuk pindah.
Bentuk Pertama:
Ini adalah masalah nyata yang patut dikritisi, karena bertentangan dengan keikhlasan. Ini adalah perasaan negatif yang muncul dari rasa kagum diri (ujub) terhadap tingkat kedewasaan atau ilmu yang telah dicapai oleh guru. Hal ini bertentangan dengan tuntunan Nabi ﷺ yang memerintahkan agar merendah dan bersikap tawadhu dalam menyampaikan ilmu. Beliau bersabda:
"Rendahkanlah diri kalian terhadap orang yang kalian belajar darinya dan yang kalian ajari, dan janganlah kalian menjadi ‘tirani para ulama’, karena ilmu kalian tidak akan bermanfaat jika dibarengi dengan kebodohan kalian."
Jika perasaan seperti ini terus bersemayam dalam hati guru, maka akan muncul banyak dampak negatif, di antaranya: sikap kaku dan dingin terhadap siswa, atau penggunaan metode kekerasan dalam mengajar sebagai bentuk pelampiasan dari tekanan batin. Semua itu bisa menyebabkan siswa menjauh dari guru, dan akhirnya tidak mendapatkan manfaat dari halaqah.
Solusi:
Seorang penuntut ilmu hendaknya selalu melihat ke atas—yakni kepada para ulama yang lebih tinggi darinya. Karena ujub biasanya muncul dari pandangan yang hanya tertuju kepada orang-orang yang lebih rendah darinya dalam hal ilmu, dan tidak melihat kepada orang-orang yang lebih tinggi. Tidak ada seorang pun yang menguasai ilmu secara mutlak, melainkan pasti ada orang lain yang lebih berilmu darinya. Allah Ta’ala berfirman:
"Dan di atas setiap orang yang berilmu, ada yang lebih berilmu." (QS. Yusuf: 76)
Ia juga hendaknya menyadari bahwa ilmu, pemahaman, kecerdasan, dan kefasihan lisannya adalah karunia dari Allah semata, dan Allah Maha Mampu mencabut semuanya dalam sekejap mata.
Penelitian-penelitian pendidikan modern juga telah membuktikan bahwa untuk mendapatkan hasil terbaik dalam mengajar anak-anak, maka guru-guru terbaik dan paling berpengalaman lah yang seharusnya ditugaskan pada tingkatan awal. Guru yang seperti ini memiliki sejumlah keunggulan yang tidak dimiliki oleh guru-guru muda, seperti:
- Pengalaman panjang di dunia pendidikan,
- Banyaknya ujian dan praktik,
- Wawasan luas meskipun tidak mendalam di semua bidang, yang cukup untuk menghindarkan kesan kebodohan di hadapan murid,
- Kedekatannya dengan sifat ke-ayah-an, yang mengenal tabiat anak-anak dan bagaimana memperlakukan mereka,
- Dan sifat-sifat khusus seperti sabar, lapang dada, mampu menahan emosi, serta kedalaman dalam memahami dan menangani perilaku anak.
Sudah dimaklumi bahwa sifat-sifat ini sangat jarang ditemukan secara bersamaan pada guru pemula atau guru muda yang penuh semangat namun minim pengalaman. Mereka lebih rentan melakukan kesalahan pendidikan dibanding guru senior.
Bentuk Kedua:
Yakni guru merasa kurang paham terhadap metode dan cara berinteraksi dengan anak-anak, sebagaimana sering diungkapkan oleh guru-guru baru dengan pernyataan seperti: “Saya tidak pandai menghadapi anak-anak,” atau “Saya tidak cocok dengan karakter mereka.”
Solusi:
Sebaiknya guru tersebut menyerahkan tugas mengajar anak-anak kepada orang yang lebih mampu darinya. Karena masa kanak-kanak adalah masa yang sangat sensitif; kesalahan dalam memperlakukan mereka bisa menimbulkan dampak psikologis mendalam yang akan terbawa hingga dewasa.
Setiap medan memiliki para ahlinya, dan siapa yang bukan ahlinya, maka lebih baik baginya untuk mundur secara terhormat daripada terjatuh dalam kesalahan. Atau, jika ia tetap ingin mengajar, hendaknya ia berlatih terlebih dahulu, lalu baru maju ke medan tugas.
Bentuk Ketiga:
Ini adalah masalah nyata yang terjadi ketika kemampuan ilmiah guru terlalu lemah, sehingga ia tidak mampu mengajar dengan baik. Ini berdampak negatif pada siswa karena ilmu yang ia dapatkan menjadi dangkal, tidak utuh, atau bahkan salah. Selain itu, guru yang merasa kurang dalam hal kemampuan, terkadang menggunakan cara-cara tertentu untuk menutupi kekurangannya, seperti bersikap keras terhadap siswa.
Solusi:
Jika ada guru lain yang lebih mumpuni, maka sebaiknya ia mundur dengan bijak. Fudhail bin ‘Iyadh berkata:
“Puncak adab adalah ketika seseorang mengenali batas kemampuannya.”
Namun, jika tidak ada orang lain yang lebih layak, maka ia tetap lanjut mengajar, tetapi dengan komitmen untuk meningkatkan kemampuannya, khususnya dalam bidang Al-Qur’an dan pengajarannya. Ini tentu lebih baik daripada berhenti atau menutup halaqah sama sekali.
Bentuk Keempat:
Ketika seorang guru merasa secara emosional tidak nyaman atau tidak tertarik untuk mengajar halaqah tertentu—bukan karena kesombongan atau keengganan yang tidak berdasar—maka hendaknya ia menyelidiki penyebab dalam dirinya. Mungkin saja metode yang ia gunakan tidak tepat, atau ada kekurangan dalam kepribadiannya yang perlu diperbaiki.
Jika setelah merenung ia tetap merasa berat, tidak mengapa jika ia memberikan kesempatan kepada orang lain yang lebih merasa nyaman dan tertarik untuk mengajar di halaqah tersebut. Ia pun bisa mencari halaqah lain yang sesuai dengan kondisi psikologisnya.
Karena Rasulullah ﷺ bersabda:
“Ruh-ruh itu seperti tentara yang berbaris. Ruh-ruh yang saling mengenal akan saling menyatu, dan yang tidak saling mengenal akan saling menjauh.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Sumber: Al-Halaaqat Al-Quraniyyah hlm. 158-162.
- Categories
- Halaqah Al-Quran


