PROBLEMATIKAN HALAQOH AL-QURAN (2)(3): JUMLAH SISWA YANG SEDIKIT & BERATNYA KURIKULUM

Bagikan

Masalah Kedua: Jumlah Siswa yang Terlalu Sedikit di dalam Halaqah

Jumlah siswa dalam sebuah halaqah yang jauh di bawah standar ideal -jika jumlahnya memang sangat sedikit- kadang bisa menimbulkan perasaan kurang semangat atau kurangnya perhatian dari sebagian guru. Sebab ada anggapan bahwa banyaknya siswa adalah tanda keberhasilan, atau karena sebagian guru sangat ingin manfaat halaqah ini menjangkau sebanyak mungkin peserta.

Meskipun perasaan seperti itu wajar, tidak seharusnya berdampak negatif secara praktis terhadap jalannya halaqah. Sebab dua hal utama dalam pendidikan, yaitu keikhlasan karena Allah dan kesungguhan dalam mengajar, khususnya dalam mengajarkan Al-Qur’an, tidak boleh terpengaruh oleh jumlah peserta atau penampilan lahiriah. Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ اللهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيءٍ

“Sesungguhnya Allah menetapkan ihsan (kebaikan dan kesungguhan) dalam segala hal.” (HR. Muslim)

Jika kita melihatnya dari sudut pandang lain, jumlah siswa yang sedikit justru memberikan peluang emas bagi guru untuk:

  • Memberikan perhatian yang lebih besar dan fokus kepada setiap siswa,

  • Menyediakan waktu pengajaran dan pendampingan yang lebih panjang,

  • Meningkatkan kualitas pembinaan dan kedekatan personal.

Selain itu, jumlah siswa yang sedikit tidak berarti kemampuan guru itu lemah. Tidak ada hubungan langsung antara keduanya. Sering kali, jumlah yang sedikit disebabkan oleh faktor-faktor lain yang perlu dicermati dan diidentifikasi oleh guru itu sendiri. Di antaranya:

  • Promosi atau pengumuman pembukaan halaqah yang kurang maksimal,

  • Jumlah anak-anak yang memang sedikit di lingkungan tempat halaqah tersebut diadakan,

  • Waktu pelaksanaan halaqah yang kurang sesuai bagi sebagian calon peserta,

  • Lokasi halaqah yang terlalu jauh atau sulit dijangkau oleh target peserta.

Masalah Ketiga: Beratnya Kurikulum yang Ditetapkan

Masalah ini memiliki dua bentuk utama:

  1. Terlalu banyak materi yang harus disampaikan atau waktu yang terlalu sempit untuk menyelesaikannya.

  2. Tingkat kesulitan materi yang tidak sesuai dengan kemampuan siswa dalam halaqah.

Bentuk Pertama: Banyaknya Materi atau Terbatasnya Waktu

Dalam bentuk ini, guru membebani diri dan siswanya dengan berbagai metode pengajaran dalam satu halaqah. Bahkan kadang menambahkan materi lain seperti bahasa Arab, sastra, hadis, fikih, atau sirah… semua itu dalam waktu yang sangat singkat—misalnya hanya antara Maghrib dan Isya!

Akibatnya, guru tidak akan mampu menyelesaikan seluruh proses pembelajaran atau menuntaskan bimbingan untuk semua siswa. Hal ini bisa menyebabkan sebagian siswa selalu tertunda, sementara sebagian lain terus dilayani, hingga siswa yang tertunda merasa tertekan karena harus menunggu lama dan tidak mendapat kesempatan tampil. Ujungnya adalah rendahnya manfaat yang didapat dan menurunnya produktivitas, karena tenaga dan perhatian guru terpecah ke terlalu banyak topik dalam waktu yang terbatas.

Kondisi ini juga bisa mendorong sebagian siswa untuk bermalas-malasan dalam menghafal dan mempersiapkan pelajaran, karena mereka mengira guru tak akan sempat memeriksa mereka seperti kejadian-kejadian sebelumnya.

Bentuk Kedua: Materi yang Terlalu Sulit dan Tidak Sesuai Tingkat Kemampuan

Contohnya adalah ketika guru meminta siswa untuk menghafal atau murajaah bagian yang melebihi kemampuan mereka. Ini tentu akan membuat siswa tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.

Contoh lain, guru memilih materi tajwid atau tafsir yang tidak sesuai dengan tingkat pemahaman siswa, atau menyampaikan konsep yang terlalu rumit sehingga melebihi daya pikir mereka, menyebabkan siswa merasa berat karena diberi beban yang tidak mampu mereka pikul. Hal ini dapat mengurangi kecintaan siswa terhadap guru, dan berdampak buruk pada manfaat pembelajaran secara keseluruhan.

Rasa terbebani seperti ini bisa mengakibatkan:

  • Menurunnya semangat belajar siswa,

  • Tingginya tingkat ketidakhadiran,

  • Bahkan putusnya siswa dari halaqah.

Masalah ini juga mempengaruhi akurasi penilaian terhadap siswa. Karena jika materi terlalu berat atau tidak diterima dengan baik, maka siswa tidak dapat menampilkan kemampuan sebenarnya, dan akhirnya terlihat di bawah standar.

Tentunya, semua dampak negatif ini akan menjadi semakin buruk jika masalah ini bergabung dengan masalah pertama, yaitu: jumlah siswa yang terlalu banyak. Pada saat itu, tanggung jawab guru menjadi lebih besar, dan bebannya menjadi berlipat ganda.

Namun, guru yang sungguh-sungguh dan mendidik dengan hati tidak akan kehabisan cara. Dengan ikhlas karena Allah dan bersandar pada pertolongan-Nya, ia akan mampu:

  • Memperbaiki kekurangan kurikulum yang ada,

  • Memilih materi yang sesuai dengan waktu dan kemampuan siswa,

  • Menambal kelemahan yang ada dengan pendekatan yang bijak.

Sebaliknya, guru yang lemah dan tidak punya semangat bisa saja merusak kurikulum terbaik, mengubah keberhasilan menjadi kegagalan, dan mengubah kemajuan menjadi kemunduran.

Sumber: Al-Halaaqat Al-Quraniyyah hlm. 155 - 158

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *