PROBLEMATIKAN HALAQOH (6): LEMAHNYA PRESTASI AKADEMIK SISWA
Sesungguhnya masalah paling menonjol yang dihadapi oleh guru Al-Qur’an adalah ketika ia memiliki satu atau lebih siswa yang lalai dalam menghafal, lambat dalam memperbaiki bacaan, tidak menunjukkan kepedulian terhadap halaqah, dan semua nasihat serta pengarahan tidak membuahkan hasil apa pun.
Bahaya dari masalah ini terletak pada kenyataan bahwa siswa seperti ini menguras banyak tenaga dan waktu guru. Waktu yang dihabiskan untuk mengajar dan membimbing siswa tersebut setara dengan waktu untuk tiga atau empat siswa lain yang cerdas dan antusias—dan itu pun tanpa hasil yang berarti!
Maka muncul pertanyaan: Apa solusi yang tepat untuk siswa seperti ini?
Apakah ia dibiarkan begitu saja tanpa perhatian?
Ataukah dihukum terus-menerus, dimarahi, atau bahkan dipukul?
Ataukah disuruh keluar dari halaqah demi menghemat waktu dan tenaga?
- Jika dibiarkan, maka itu bertentangan dengan firman Allah Ta’ala:
. . . حَرِيصٌ عَلَيْكُم
“(Nabi itu) sangat menginginkan (kebaikan) bagi kalian.” (QS. At-Taubah: 128)
- Jika terus dihukum, hasilnya adalah sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ
“Kalau engkau keras dan berhati kasar, niscaya mereka akan lari dari sekitarmu.” (QS. Ali Imran: 159)
Dan jika disuruh keluar dari halaqah, maka dampaknya akan lebih besar dan lebih buruk baginya, tanpa diragukan.
Solusi paling tepat adalah: guru mendekati kepribadian siswa ini lebih dalam, mengenali motivasi dan kecenderungan yang menggerakkannya, serta menemukan pemicu yang bisa mendorongnya untuk aktif dan bersungguh-sungguh. Dengan cara ini, guru bisa masuk ke dunia siswa, memintanya untuk melakukan sesuatu melalui cara yang ia sukai, tanpa tekanan atau beban yang melebihi kemampuannya. Setelah itu, insya Allah guru akan melihat hasil yang menggembirakan.
Daripada siswa ini menjadi anak yang terbuang dan gagal, berkeliaran di jalanan setelah dikeluarkan dari halaqah, guru justru bisa jadi menemukan bakat tersembunyi atau energi terpendam dalam dirinya, lalu membimbing dan mengembangkannya, hingga ia menjadi buah manis dari halaqah tahfizh Al-Qur’an.
Syaikh Ibnu Jama‘ah pernah memberi isyarat halus mengenai poin ini dalam ucapannya:
“Jika guru memiliki dugaan kuat bahwa seorang siswa tidak akan berhasil dalam suatu bidang, maka hendaknya ia menyarankan agar siswa tersebut meninggalkan bidang tersebut dan beralih ke bidang lain yang lebih menjanjikan keberhasilan.”
Kita sepakat dengan beliau dalam hal perpindahan dan perubahan, tetapi yang dimaksud di sini adalah perubahan pada metode dan pendekatan guru, bukan menyuruh siswa meninggalkan Al-Qur’an dan halaqah.
Setiap anak dari kalangan kaum Muslimin berhak mendapatkan bagian dari Kitab Suci ini, dan tumbuh besar dengannya, tentu dengan mempertimbangkan perbedaan tingkat kemampuan siswa—dan itu adalah hal yang tidak perlu dipermasalahkan.
Sumber: Al-Halaaqat Al-Quraniyyah hlm. 162-164
- Categories
- Halaqah Al-Quran

