PENTINGNYA MEMPELAJARI SIROH NABAWIYYAH
Cukuplah menunjukkan betapa pentingnya sirah nabawiyah (sejarah kehidupan Nabi) dengan kenyataan bahwa ia merupakan sumber kedua dalam ilmu-ilmu syariat, akidah, akhlak, kebudayaan, dan dakwah Islam, setelah sumber utama yaitu Al-Qur’an al-Karim. Sirah termasuk wahyu sebagaimana Al-Qur’an, berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
Dan tidaklah dia berbicara dari hawa nafsunya. Ucapannya tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm: 3–4)
Al-Qur’an -sebagai sumber utama- diturunkan secara berangsur-angsur mengikuti peristiwa-peristiwa dan kejadian dalam sirah nabawiyah. Oleh karena itu, Al-Qur’an tidak bisa dipahami atau ditafsirkan dengan benar kecuali dengan mengetahui peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Nabi dan penjelasan beliau melalui sirahnya. Hal ini ditegaskan dalam firman Allah:
وَأَنزَلنَا إِلَيكَ الذِّكرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيهِم وَلَعَلَّهُم يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44)
Sunnah -yang mencakup sirah- dan al-hikmah (kebijaksanaan), disebutkan setelah Al-Qur’an, seperti dalam firman Allah:
. . . وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“…dan Dia mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan Al-Hikmah.”
(QS. Al-Jumu‘ah: 2)
. . . وَاذْكُرْنَ مَا يُتلَىٰ فِي بُيُوتِكُنَّ مِن آيَاتِ اللَّهِ وَالحِكمَةِ
Dan firman-Nya: “Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumah-rumah kalian dari ayat-ayat Allah dan hikmah.” (QS. Al-Ahzab: 34)
Tidak bisa dibayangkan adanya Islam tanpa Sunnah. Rasulullah ﷺ bersabda:
ألا إني أُوتيتُ القرآنَ ومثلُه معه، ألا يُوشِكُ رجلٌ شبعانٌ على أريكتِه يقول : عليكم بهذا القرآنِ، فما وجدتم فيه من حلالٍ فأحِلُّوه، وما وجدتم فيه من حرامٍ فحرِّموهُ
“Ingatlah, sesungguhnya aku telah diberi Al-Qur’an dan yang semisal dengannya bersamanya. Ingatlah, akan datang suatu masa seseorang yang duduk kekenyangan di atas dipan (tempat duduknya), lalu ia berkata: ‘Cukup bagi kalian Al-Qur’an. Apa yang kalian dapati di dalamnya sebagai halal, maka halalkanlah; dan apa yang kalian dapati sebagai haram, maka haramkanlah…” (HR. Ahmad no. 17174 – Hadis sahih)
Para salafus shalih telah menyadari pentingnya sirah nabawiyah, termasuk di dalamnya peristiwa-peristiwa peperangan dan ekspedisi militer (yang dikenal dengan sebutan maghāzī). Karena sebagian orang mulai mengabaikan bagian maghāzī dari sirah nabawiyah, maka perlu diingatkan kembali akan urgensinya—karena ia termasuk sunnah.
Semoga Allah merahmati para imam dari kalangan salaf, seperti Zainul ‘Ābidīn ‘Alī bin al-Ḥusain bin ‘Alī bin Abī Ṭālib yang berkata:
"Kami dahulu diajarkan tentang peperangan-peperangan Rasulullah ﷺ sebagaimana kami diajarkan satu surat dari Al-Qur’an."
Juga Imam az-Zuhrī — salah satu tokoh utama dalam periwayatan kitab-kitab hadis enam (kutub as-sittah) dan lainnya — yang berkata:
"Dalam ilmu sirah terdapat ilmu dunia dan akhirat."
Begitu pula Ismā‘īl bin Muḥammad bin Sa‘d bin Abī Waqqāṣ yang mengatakan:
"Ayahku (Sa‘d bin Abī Waqqāṣ) dahulu mengajarkan kami tentang peperangan dan ekspedisi Rasulullah."
Ismā‘īl juga berkata:
"Wahai anakku, ini adalah kemuliaan nenek moyang kalian, maka janganlah kalian melupakan kisah-kisahnya." (Lihat: Al-Khaṭīb al-Baghdādī, Al-Jāmi‘ li Akhlāq ar-Rāwī wa Ādāb as-Sāmi‘)
‘Ubaydullāh bin ‘Utbah pun pernah berkata tentang majelis ilmu Ibnu ‘Abbās yang khusus membahas sirah:
"Kami biasa hadir di majelis beliau, lalu beliau membacakan kepada kami sepanjang petang tentang maghāzī (perang-perang Nabi)."
Ibnu Ḥazm aẓ-Ẓāhirī, sang imam, berkata:
"Sesungguhnya sirah Nabi Muḥammad ﷺ -bagi siapa yang merenunginya- niscaya akan membawanya kepada keharusan untuk membenarkan beliau, dan menjadi bukti bahwa beliau adalah benar-benar utusan Allah. Seandainya beliau tidak memiliki mukjizat selain dari sirahnya, niscaya itu sudah cukup." (Lihat: Al-Fiṣal fi al-Milal wa al-Ahwā’ wa an-Niḥal, karya beliau)
Ibnu al-Qayyim berkata:
"Dari sini kita tahu bahwa seorang hamba sangat memerlukan -lebih dari segala kebutuhan lainnya- untuk mengenal Rasul ﷺ, ajaran yang beliau bawa, membenarkan berita yang beliau sampaikan, dan menaati perintahnya. Jika kebahagiaan hamba di dunia dan akhirat tergantung pada petunjuk Nabi ﷺ, maka wajib atas siapa pun yang ingin menasihati dirinya dan mengharap keselamatan serta kebahagiaannya, untuk mempelajari petunjuk, sirah, dan kehidupan beliau, agar ia tidak tergolong orang-orang yang jahil tentang beliau, dan termasuk dalam barisan pengikut serta golongannya. Manusia dalam hal ini ada yang mengambil bagian sedikit, banyak, atau tidak sama sekali. Dan keutamaan ada di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah adalah Pemilik karunia yang agung." (Zād al-Ma‘ād fī Hadyi Khayr al-‘Ibād, hlm. 69–70, cet. ke-13, 1406 H / 1986 M, Muassasah ar-Risālah)
Sumber: Mukhtashar As-Siirah An-Nabawiyyah min Mashaadirihaa Al-Ashliyyah, hlm. 5-7
- Categories
- Kisah & Sejarah Islam


